Ternyata Sejak Dulu Sepakbola & Ekonomi Argentina Beda Nasib!

Cover Insight, Argentina

Setelah 36 tahun puasa gelar, Argentina akhirnya berhasil mengangkat kembali trofi Piala Dunia 2022, termasuk sang bintang Lionel Messi untuk kali pertama angkat tropi piala dunia sepanjang kariernya.

Messi dan kawan-kawan mampu menaklukkan Prancis lewat drama adu pinalti 4-2 (3-3) di Stadion Lusail, Qatar, Senin (19/12/2022) dini hari WIB. Gapaian ini tentu
mencerminkan kualitas persepakbolaan Argentina yang telah dibangun secara mapan selama beberapa dekade.

Bagi masyarakat Argentina, catatan Eduardo P. Archetti dan Amilcar G. Romero dalam Death and Violence in Argentinian Football (1994), sepakbola dianggap sebagai agama. Hampir setiap hari masyarakat membahas sepakbola, baik dalam suasana kegembiraan atau kekecewaan Namun, di balik itu sepakbola
La Albiceleste berdiri di atas kontroversi.

Politik Sepakbola dan Ekonomi Borok

Secara teori, politik dan sepakbola adalah dua hal yang tidak bisa dicampurkan. Namun, dalam praktiknya tentu berbeda. Politik dan sepak bola kerap berjalan bergandengan tergandung agenda penguasa. Inilah yang terjadi di Argentina selama beberapa dekade terakhir dan dilakukan secara terang-terangan oleh para pejabat negara.

Awal mula dari keterkaitan ini bermula sejak Juan Peron berkuasa untuk ketiga kalinya pada 1973. Peron adalah sosok yang sempat dikucilkan dalam dunia politik. Saat berkuasa kembali, ia tidak memiliki citra yang baik. Maka, untuk memperbaikinya dia mendekatkan diri di dunia sepak bola.

Kala itu di Argentina, sepakbola adalah olahraga terpopuler di semua lapisan masyarakat, khususnya di kelas menengah ke bawah. Peron setali tiga uang. Pikirnya, dengan memperbaiki sektor sepakbola, popularitasnya dapat meningkat.

Langkah cerdik pertama yang dilakukannya adalah dengan mendirikan banyak stadion baru untuk klub- klub sepakbola. Selain itu, ia kerap tampil di tengah suporter saat pertandingan dimulai dan membuat media olahraga yang difungsikan untuk mempamerkan prestasinya terhadap dunia sepak bola. Upaya ini berbuah manis. Citra Peron pun kembali naik.

Keberhasilan ini kemudian diikuti oleh pemimpin setelahnya, Jorge Rafael Videla. Videla adalah jenderal yang berkuasa pada tahun 1976 usai mengkudeta presiden sebelumnya, Isabella. Kudeta ini kemudian melahirkan rezim diktator. Videla sebagai penguasa tunggal sangat mengontrol gerak-gerik rakyatnya.
Penculikan, penangkapan, dan pembunuhan menjadi konsekuensi bagi mereka yang merecoki kekuasaan.

Berbagai tekanan atas kebiadaban Videla dilakukan oleh berbagai pihak, baik dari dalam atau luar negeri. Banyak negara yang mengutuk dan mengancam akan memberi sanksi jika Videla tidak mengubah tindakan tersebut.

Menyikapi situasi seperti ini, Videla lantas punya cara cerdik, yakni memanfaatkan penyelenggaraan tuan rumah piala dunia 1978 sebagai pencitraan politik. Sebagai catatan pada tahun tersebut, Argentina memang dipilih FIFA sebagai tuan rumah piala dunia ke-11.

Mengutip History, Videla berupaya menggunakan sepakbola untuk menutup keburukan yang telah diperbuatnya. Dana besar digelontorkan untuk memperbaiki fasilitas publik dan olahraga, meski di sisi lain rakyat sedang mengalami kesusahan.

Singkatnya, orang nomor satu di Argentina itu ingin memberitahu dunia kalau situasi di negaranya baik-baik saja. Tidak ada kekerasan terhadap masyarakat dan krisis ekonomi. Berbeda terbalik dengan pemberitaan media.

Cara lain yang dilakukan oleh mereka adalah mengatur pertandingan sepakbola. Seperti dikutip dari Iranwire, ada dugaan kalau kemenangan Argentina dari Peru (6-0) di final piala dunia 1978 kental dengan kebohongan dan korupsi. Ada aliran uang dan lobi-lobi rahasia antara dua pemimpin negara
supaya Argentina dapat memenangi pertandingan.

Apabila meraih juara, maka rakyat akan lupa atas kebobrokan rezim Videla. Sampai sekarang, isu pengaturan skor ini selalu menjadi pembicaraan sebab
tidak pernah ada klarifikasi dari kedua negara.

Selain digunakan sebagai alat politik, sepak bola Argentina juga kental dengan isu kriminalitas. Ada hubungan gelap antara polisi, pemilik klub, dan para mafia, yang biasanya ini dilakukan oleh sekelompok suporter garis keras yang disebut barra brava. Mereka beroperasi selayaknya mafia: mengendalikan penjualan tiket, mengatur perilaku pemain, menguasai penjualan barang dagangan, dan memiliki andil dalam hampir setiap elemen sepak bola. Dengan kuasa yang besar, tak jarang pula mereka melakukan kerusuhan yang sulit dikendalikan.

Kondisi beberapa dekade lalu, ternyata masih relevan dengan Argentina dan sepakbolanya kini, juara dunia  seperti menutup keborokan masalah ekonomi negara tersebut yang dilanda krisis ekonomi dan utang maha dahsyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*