Modal Rp10 Juta, Mending Beli Reksa Dana Atau Sukuk Tabungan?

Ilustrasi investasi atau reksa dana

Bermodalkan uang menganggur sebesar Rp 10 juta, jika Anda ditawarkan dua jenis investasi yaitu Sukuk Tabungan ST010 dan reksa dana pendapatan tetap, manakah yang Anda pilih?

Masa pemesanan Sukuk Tabungan https://rtpdwslot88.org/ Seri ST010T2 dan Green Sukuk Ritel – Sukuk Tabungan Seri ST010T4 sudah berlangsung.

Kini, masyarakat bisa memilih instrumen yang bisa memberikan imbal hasil tetap dengan keuntungan di atas 6% setahun. Yang paling menarik lagi adalah, modal serta keuntungan itu dijamin oleh negara.

Namun di samping itu, masih tersedia opsi reksa dana pendapatan tetap di pasaran.

Isi dari reksa dana pendapatan tetap sejatinya adalah surat berharga negara maupun korporasi, yang tidak jauh berbeda dengan sukuk, hanya saja imbal hasil dari reksa dana tidak bisa dijamin oleh siapapun.

Manakah pilihan terbaik untuk Anda? Mari kita ulas lebih lanjut.

Karakteristik imbal hasil yang berbeda

Anggap saja, Anda membeli ST010T2 yang memiliki Imbal hasil 6,25% setahun dan tenor dua bulan, maka dengan modal Rp 10 juta, sebesar ini imbal hasil yang Anda dapatkan.

(Rp 10 juta x 6,25%) / 12 (bulan) = Rp 52.083 (kotor)

Rp 520.833,33 x (Rp 520.833,33 x 10%) = Rp 46.875

Imbal hasil setahun

Rp 46.875 x 12 = Rp 562.500

Sementara reksa dana pendapatan tetap yang imbal hasilnya tidak bisa dijamin selalu menunjukkan kinerja historisnya dalam beberapa periode.

Menempatkan uang Rp 10 juta di reksa dana pendapatan tetap secara langsung tentunya bisa, karena dengan membeli satu reksa dana pendapatan tetap Anda sama saja dengan membeli portofolio berisi lebih dari satu jenis surat utang.

Namun tidak akan ada penghasilan pasif yang didapat setiap bulan layaknya Sukuk Tabungan dalam reksa dana pendapatan tetap. Nilai investasi Anda juga bisa saja tergerus karena fluktuasi harga surat utang yang masuk dalam portofolio reksa dana.

Akan tetapi, potensi capital gain atau kenaikan harga unit reksa dana tentunya bisa melebihi total imbal hasil Sukuk Tabungan, namun semua hal ini tentu bergantung dengan kondisi pasar.

Tak ada jatuh tempo di reksa dana

Jika Sukuk Tabungan memiliki periode jatuh tempo dua tahun dan empat tahun, maka reksa dana tidak mengenal istilah ini.

Benar sekali bahwa surat-surat berharga di portofolio reksa dana pendapatan tetap akan jatuh tempo pada waktunya. Namun manajer investasi bisa mengganti surat utang yang sudah jatuh tempo dengan yang baru.

Anda pun bisa memegang reksa dana ini dalam jangka waktu yang sangat panjang sekalipun.

Pajak final

Di tahun 2021 pemerintah menetapkan pajak final untuk imbal hasil SBSN dan surat utang negara lainnya sebesar 10% per tahun.

Sedangkan reksadana bukan lah obyek pajak, namun dalam reksadana tentu saja ada biaya-biaya yang nantinya bisa memotong imbal hasil investasi Anda.

Mana yang lebih baik

Itulah beberapa hal yang bisa kamu ketahui seputar SBSN dan reksadana pendapatan syariah. Pada intinya, kurang tepat untuk membandingkan mana yang lebih baik atau menguntungkan antara dua instrumen ini lantaran baik reksa dana atau Sukuk Tabungan memiliki banyak kelebihan dan kekurangan.

Bagi Anda yang suka investasi berkala dan memiliki modal kecil, reksa dana adalah pilihan yang tepat untuk dipilih. Karena dengan membelinya, Anda bisa memiliki sebuah investasi dengan returns mirip surat berharga.

Sementara bagi Anda yang memiliki kas berjumlah besar dan ingin mencari pendapatan pasif rutin, Sukuk Tabungan adalah pilihannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*