Bos ChatGPT Warning Bahaya AI, Tak Cuma Buat Manusia Nganggur

CEO Open AI Sam Altman berbicara selama pidato utama yang mengumumkan integrasi ChatGPT untuk Bing di Microsoft di Redmond, Washington, pada 7 Februari 2023. ((AFP via Getty Images/JASON REDMOND)

Pencipta ChatGPT, Sam Altman, berkali-kali memperingatkan bahaya penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) bagi masa depan manusia. Selain bisa membuat manusia menganggur, ternyata ada faktor lain yang perlu diperhatikan.

Altman sendiri membuat ChatGPT lewat OpenAI karena ingin menciptakan AI yang membantu manusia, bukan menggantikan peran manusia. Namun, banyak analis mengatakan justru ChatGPT yang membuka potensi AI sebagai perenggut pekerjaan.

Dalam sebuah wawancara, Altman memperingatkan bahwa maraknya perusahaan teknologi menjiplak ChatGPT bisa berpotensi buruk.

“Satu hal yang saya khawatirkan adalah, kami bukan satu-satunya kreator teknologi AI,” ujarnya, dikutip dari YahooFinance, Senin (20/3/2023).

“Banyak orang [yang membuat layanan serupa ChatGPT] tak memperhatikan faktor keamanan seperti yang kami lakukan,” ia menambahkan.

OpenAI merilis ChatGPT pada November 2022 lalu dan langsung mendapat sambutan meriah. Baru beberapa bulan, pengguna aktif bulanannya sudah tembus 100 juta.

Raksasa teknologi pun berbondong-bondong menciptakan pesaing ChatGPT. Baru-baru ini, OpenAI meripis GPT-4 sebagai model bahasa baru yang lebih canggih untuk ChatGPT.

“Kompetisi sangat ketat. GPT-4 sangat sulit dikembangkan. Banyak perusahaan yang akan berminat membangun teknologi serupa. Namun, kami sudah lebih matang,” kata salah satu pendiri OpenAI, Ilya Sutskever.

OpenAI sesumbar pihaknya melakukan tes yang mendalam sebelum meluncurkan GPT-4. Salah satunya, ketika ditanyakan informasi berbahaya seperti penggunaan bahan kimia ilegal, GPT-4 tak akan menggubris.

Altman takut jika teknologi AI ke depannya dimanfaatkan bagi orang-orang jahat. Misalnya untuk melakukan penipuan online menggunakan voice-cloning AI. Atau, bisa juga AI digunakan untuk menyebar informasi tak benar.

“Saya khawatir teknologi canggih ini bisa digunakan untuk menyebar disinformasi,” ia menuturkan.

“Banyak orang yang sudah jago menulis pengkodean komputer. Mereka bisa memanfaatkan AI untuk melakukan serangan siber,” ia menambahkan.

Lebih lanjut, Altman meminta agar penerapan teknologi AI segera diatur dalam regulasi yang ketat di tiap negara. Hal ini untuk membatasi pemanfaatannya, jangan sampai disalahgunakan.

“Regulasi sangat penting dan perlu waktu untuk menggodoknya hingga matang,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*