AS Panik, Biden Buru Biang Kerok Bocornya Data Intelijen

Pentagon logo (via Getty Images/Anadolu Agency)

Pejabat Amerika Serikat (AS) sedang mencari dalang dibalik bocornya data intelijen negara itu. Hal ini terjadi pascadokumen intelijen Pentagon beredar ke publik setelah dibagikan dalam media sosial Discord.

Wakil sekretaris pers Pentagon Sabrina Singh mengatakan Washington telah melakukan ‘upaya antarlembaga’ untuk menilai dampak kebocoran itu. Ini untuk mengukur sejauh mana data-data tersebut telah tersebar serta validitasnya.

“Departemen Pertahanan terus meninjau dan menilai validitas dokumen berfoto yang beredar di situs media sosial dan tampaknya berisi materi sensitif dan sangat rahasia,” kata Singh dalam sebuah pernyataan kepada CNN International, Senin (10/4/2023).

Seorang pejabat Pentagon mengatakan Staf Gabungan, yang terdiri dari pimpinan militer paling senior Departemen Pertahanan, sedang memeriksa daftar distribusinya untuk melihat siapa yang mendapatkan laporan ini.

“Banyak dokumen memiliki tanda yang menunjukkan bahwa dokumen tersebut dibuat oleh unit intelijen Staf Gabungan, yang dikenal sebagai J2, dan tampaknya merupakan dokumen pengarahan,” lapor CNN menggambarkan dokumen tersebut.

Pejabat senior Pentagon mengatakan luasnya topik yang dibahas dalam dokumen, yang menyentuh perang di Ukraina, China, Timur Tengah dan Afrika, menunjukkan bahwa dokumen itu mungkin dibocorkan oleh orang Amerika dan bukan sekutu.

“Fokusnya sekarang adalah kebocoran AS, karena banyak dokumen hanya ada di tangan AS,” Michael Mulroy, mantan pejabat senior Pentagon, mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Para pejabat AS mengatakan penyelidikan tersebut masih dalam tahap awal dan mereka yang menjalankannya tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa unsur-unsur pro-Rusia berada di balik kebocoran tersebut.

Dokumen yang bocor sendiri memuat beberapa informasi serius terkait spionase AS di luar negeri serta potensi rencana Ukraina dalam perangnya melawan Rusia.

Dalam dokumen itu, terungkap beberapa rencana Kyiv dalam menyerang Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada akhir Februari lalu menyarankan untuk menyerang lokasi penyebaran Rusia di Oblast Rostov Rusia dengan menggunakan kendaraan udara tak berawak. Ini disebabkan karena Ukraina tidak memiliki senjata jarak jauh lainnya yang mampu menjangkau sejauh itu.

AS sendiri memutuskan untuk tidak memberikan sistem rudal jarak jauh pada Kyiv karena kekhawatiran akan menggunakannya untuk menyerang di dalam Rusia. Apalagi, China dilaporkan dapat mengambil manuver yang berseberangan jika Ukraina melakukannya.

“China dapat menggunakan serangan Ukraina pada sasaran jauh di dalam Rusia sebagai peluang untuk menjadikan NATO sebagai agresor, dan dapat meningkatkan bantuannya ke Rusia jika menganggap serangan itu signifikan,” tulis laporan.

Data lainnya yang bocor adalah laporan mengenai dukungan intelijen Israel, Mossad, untuk mendorong protes terhadap pemerintah negara itu terkait peraturan peradilan baru.

“Mossad telah mendorong protes terhadap pemerintah, termasuk beberapa seruan eksplisit untuk bertindak,” tuduh laporan tersebut.

Atas kebocoran ini, beberapa sekutu AS pun menyatakan kekhawatirannya terkait dampak yang mungkin terjadi. Ini utamanya terkait Ukraina, dimana dokumen itu dapat menguak rencana perang Kyiv dengan Rusia.

“Kami mengharapkan AS untuk berbagi penilaian kerusakan dengan kami dalam beberapa hari mendatang, tetapi kami tidak dapat menunggu penilaian mereka. Saat ini kami melakukan sendiri,” kata seorang pejabat dari negara anggota Five Eyes intelligence-sharing arrangement yang selain AS juga beranggotakan Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Inggris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*