12 Tahun Tinggal di Hong Kong, Shanty Boyong Anak-anak Pindah ke Bali Mengapa?

Jakarta – Bunda masih ingat Shanty? VJ dan penyanyi kenamaan Indonesia itu sempat meramaikan dunia hiburan di awal 2000-an sebelum pindah ke Hong Kong.

Shanty yang mengawali karier sebagai penari latar sukses membesarkan namanya di dunia hiburan. Namun setelah menikah, ia vakum untuk mengurus keluarga.

Pada 2010, Shanty dinikahi oleh seorang pria keturunan Ekuador bernama Sebastian Paredes. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai dua orang anak.

Pemilik nama lengkap Annisa Nurul Shanty Kusuma Wardhani itu menetap di Hong Kong tak lama setelah menikah. Dua belas tahun berlalu, Shanty akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia karena beberapa hal.

Shanty bercerita, kehidupannya di Hong Kong selama 12 tahun mulai mengalami kegelisahan karena merindukan kariernya sebagai penyanyi. Melebarkan sayap di Hong Kong tak semudah yang ia kira.

“Gue sempat berusaha menyanyi di sana. Tapi meskipun lo bisa nyanyi, enggak di mana pun lo bisa nyanyi. Salah satu yang gue rasakan di Hong Kong adalah dengan warna kulit cokelat ini, kita kayak dikasih ‘box’, bahwa market-nya cuma di sini,” ungkap Shanty, dikutip dari kanal YouTube Melaney Ricardo.

“Gue tahu persis demand-nya di sana bukan itu. Kalian harus antara lokal, atau orang Barat. Ini bukan rasis, tapi demand-nya memang begitu, dikotakin seperti itu. Boro-boro gue dilihat,” sambungya.

Tak peduli seberapa besar pencapaian Shanty di Indonesia, ia sangat sulit untuk menembus pasar musik Hong Kong. Shanty mengalami banyak penolakan di sana.

“Gue pernah datang ke manajemen dengan membawa berbagai album gue, potongan video klip, konser, dan lainnya, itu tidak dilirik. Mungkin cuma dipasang 30 detik pertama, terus mereka bilang, ‘I don’t think we have anything for you’, sangat straightforward,” ia bercerita.

Cobaan semakin bertambah ketika Hong Kong turut menjadi salah satu negara yang mengalami pandemi COVID-19. Bahkan menurut Shanty, angka positif di sana cukup tinggi sehingga membuat pemerintah menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat.

“Pada saat kena COVID-19, Hong Kong salah satu yang terburuk. Aturan paling ketat, hukuman paling ketat, pokoknya bikin gue gila. Selama dua tahun COVID-19 itu gue mengalami semua perubahan aturan, yang tetangga gue diisolasi,” tutur Shanty.

Tak hanya itu, Shanty juga sempat melakukan karantina selama tiga minggu. Ia pun harus merogoh kocek sangat dalam untuk biaya hidup di masa pandemi, Bunda.

Uang senilai ratusan juta telah ia keluarkan demi bertahan hidup. Shanty yang dikenal sebagai perempuan aktif juga merasa stres karena ruang gerak yang dibatasi.

“Di situ kewarasanku kayak cuma tinggal sedikit saat pandemi, sudah puyeng. Ruang gerak gue sangat terbatas, enggak bisa ngapa-ngapain. Seorang Shanty di kamar hotel 3 minggu harus bayar Rp100 juta, kalau mau pakai treadmill doang bayar lagi Rp30 juta. Pokoknya karantina di Indonesia dan Hong Kong itu beda banget,” paparnya.

Di kala penat, secercah harapan muncul ketika seorang teman menawarkan kesempatan Shanty untuk membesarkan namanya di industri hiburan Hong Kong.

Shanty mendapat undangan untuk menjadi pembicara di sebuah forum internasional. Tak hanya itu, Shanty juga dipersilakan meluncurkan lagu terbarunya di panggung tersebut.

“Gue launching lagu itu sambil jadi speaker di TEDex. Keluar lah lagu ini di Hong Kong, gue dapat nama. Gue ditaruh sebagai penutup acara. Wah, itu perut gue sudah kayak ingin kabur. Audience-nya kan beda dari Indonesia, mereka tidak tahu siapa saya. Tapi it went well, pecah! Gue akhirnya mendapat energi kembali,” kenangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*